Jumat, 18 April 2008

Sarasehan Dalang Wayang Kulit 2008

Garap Sabet Unsur Penting PergelaranWayang

Garap Sabet merupakan unsur penting dalam pergelaran wayang kulit. Sebabgarap sabet memberi kesan wayang kulit menjadi hidup dan komunikatif dengan audiens. Itulah garis besar pada Sarasehan Dalang Wayang Kulit 2008 yang digelar Persatuan Pedalagan Indonesia (Pepad) Komisariat Daerah (komda) Kota Palembang, 9-10 April 2008 di Aula RRI Palembang kemarin.

Sarasehan yang mendatangkan tiga narasumber dalang tersohor dari Surakarta itu a

dalah Ki Manteb Sudarsono, Ki Sudirman Ronggo Darsono, dan Ki Putut

Wijanarko. Ketiga narasumber telah menurunkan ilmunya kepada 24 para dalang peserta arasehan, baik dalang dari kota Palembang maupun para dalang yangberasal dari berbagai daerah di Sumsel.

Yang menariknya, ketiga dalang tersohor itu memamerkan kelihaiannya, yaitu peragaan secara la

ngsung kepada para peserta sarasehan mengenai sabet, cepengan dan iringan yang disampaikan Ki Sudirman Ronggo Drsono dan Ki Putut Wijanarko. Ki Manteb Sudarsono membeberkan tentang perkeliran

secara garis besar dan pengembangan cerita (Sanggit).

Menurut Ketua Panitia Penyelenggara, Triyono Junaidi, dari kegiatan sarasehan dalang wayang kulit 2008 ini ada beberapa hal yang bisa dipahami peserta, antara lain perkeliran boleh ikembang

kan sesuai kehendak audiensi, tetapi jangan menyimpang dari pakem.

''Dalam pengembangan cerita (sanggit) seorang dalang diberi kebebasan tetapi diharapkan jangan sampai menyimpangdari pokok cerita (lakon) dan dapat diterima audiensi,'' kata Triyono.

Dalam pergelaran diupayakan tidak tidak memasukkan unsur-unsur politik dari salah satu golongan. Dalang bukan milik partai politik, tapi milik bangsa. Bagi dalang secara pribadi boleh berpolitik, tetapi tidak membawa organisasi pedalangan untuk berpolitik. Seni pedalangan adalah seni yang agung yang mengandung unsur tontonan, tuntunan dan tatanan. Mengandung unsure pendidikan masyarakat, dan falsafah kehidupan.

Seperti ditutrkan Ki Manteb, seni pedalangan bisa langgeng (abadi) karena merupakan seni budaya yang mengajarkan tentang kebenaran dan kejahatan. Sampai kapanpun yang benar akan menang dan yang jahat pasti akan semeleh (jatuh). Ibarat gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang. Dalam kehidupan ini juga sama, manusia mati meninggalkan kebaikan.

Dan yang terpenting dalam sarasehan ini para dalang sudah bisa mengambil kesimpulan bahwa sabetan hendaknya didukung tiga unsur, yaitu prigel (trampil) dan urip (hidup). untuk mendukung tiga unsur tersebut perlu adanya teknik cepengan antara lain jagal, genok uggil, lengkehan, picisan, metit. Inti dari garap sabet adalah setiap gerak wayang pada kelir harus hidup (urip) dan bermakna.

Dalam perkeliran, seperti dipaparkan Ki Putut Wijanarko, diperlukan adanya iringan untuk menghidupkan suasana (Pamurbo swasono) misalnya adegan Hastino kabor, Pandawa dan kayangan kawit, Dworowati gending karawitan, tetapi dalam pekeliran disesuaikan dengan kemampuan pengrawit.

Sarasehan ini memang sangat mengesankan, hal itu terlihat para dalang peserta sarasehan msih sangat memerlukan pengetahuan perkeliran lengkap dengan iringan dan sebagainya. Ini terbukti dengan banyaknya pertanyaan dan tanggapan dari peserta kepada ketiga narasumber.

''Dari sarasehan ini kami menyimpulkan bahwa kegiatan semacam ini sangat perlu diselenggarakan, bila perlu secara periodik agar pengetahuan dan ketrampilan para dalang dapat meningkat dan lebih trampil,'' pungkas Triyono. (*)

Foto lengkap klik link ARSIP FOTO dan PERISTIWA

Tidak ada komentar:

Harian Sumatera Ekspres Juara I Perwajahan

Harian Sumatera Ekspres Juara I Perwajahan
Begitu memperoleh tropi berwarna kuning emas dan bertuliskan Juara I Perwajahan se Jawa Pos Grup, awak redaksi langsung berebut foto bersama. Suasana bangga mirip Sriwijaya FC memperoleh piala Liga Indonesia. ''Ayo kita arak ramai-ramai...'' seru Mbak Pipit, redaktur senior halaman daerah, yang kini dapat jabatan baru sebagai Sekretaris redaksi, ketika menyodorkan piala yang mirip dengan piala Liga itu

Wartawati Sumatera Ekspres pun tak mau kalah, mereka mau pose tersendiri di ruang perpustakaan. Ini adalah sejarah, ''25 tahun ke depan, bisa jadi dokumen berharga,'' ujar Mbak Wiwik, redaktur senior halaman ekonomi